SUMBER DAYA MANUSIA

WHAT

PENGERTIAN SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.

Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.

Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka. [1]

Dalam definisi yang lain, sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.

Bicara mengenai sumber daya manusia, maka terkait juga dengan perencanaan SDM, yaitu proses analisis dan identifikasi tersedianya kebutuhan akan SDM sehingga organisasi dapat mencapai tujuannya.

Ada tiga kepentingan dalam perencanaan sumber daya manusia, yaitu:

  • Kepentingan Individu.
  • Kepentingan Organisasi.
  • Kepentingan Nasional.

Terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sumber daya manusia, yaitu:

  • Tujuan

Perencanaan SDM harus mempunyai tujuan yang berdasarkan kepentingan individu, organisasi dan kepentingan nasional. Tujuan perencanaan SDM adalah menghubungkan SDM yang ada untuk kebutuhan perusahaan pada masa yang akan datang untuk menghindari mismanajemen dan tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.

  • Perencanaan Organisasi

Perencanaan Organisasi merupakan aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk mengadakan perubahan yang positif bagi perkembangan organisasi. Peramalan SDM dipengaruhi secara drastis oleh tingkat produksi.

Tingkat produksi dari perusahaan penyedia (suplier) maupun pesaing dapat juga berpengaruh. Meramalkan SDM, perlu memperhitungkan perubahan teknologi, kondisi permintaan dan penawaran, dan perencanaan karir.

Singkatnya, perencanaan sumber daya manusia memberikan petunjuk masa depan, menentukan dimana tenaga kerja diperoleh, kapan tenaga kerja dibutuhkan, dan pelatihan dan pengembangan jenis apa yang harus dimiliki tenaga kerja.

Melalui rencana suksesi, jenjang karier tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan perorangan yang konsisten dengan kebutuhan suatu organisasi.

Adapun syarat-syarat perencanaan sumber daya manusia antara lain:

  • Harus mengetahui secara jelas masalah yang akan direncanakannya.
  • Harus mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang SDM.
  • Harus mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi persediaan SDM.
  • Harus mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang.
  • Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan.
  • Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah.

Berikut prosedur perencanaan sumber daya manusia :

  • Menetapkan secara jelas kualitas dan kuantitas SDM yang dibutuhkan.
  • Mengumpulkan data dan informasi tentang SDM.
  • Mengelompokkan data dan informasi serta menganalisisnya.
  • Menetapkan beberapa alternative.
  • Memilih yang terbaik dari alternative yang ada menjadi rencana.
  • Menginformasikan rencana kepada para karyawan untuk direalisasikan.

Jika perencanaan sumber daya manusia dilakukan dengan baik, maka akan diperoleh keuntungan :

  • Manajemen puncak memiliki pandangan yang lebih baik terhadap dimensi SDM atau terhadap keputusan-keputusan bisnisnya.
  • Biaya SDM menjadi lebih kecil, karena manajemen dapat mengantisipasi ketidakseimbangan sebelum terjadi hal-hal yang dibayangkan sebelumnya yang lebih besar biayanya.
  • Tersedianya lebih banyak waktu untuk menempatkan yang berbakat karena kebutuhan dapat diantisipasi dan diketahui sebelum jumlah tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan.
  • Adanya kesempatan yang lebih baik untuk melibatkan wanita dan golongan minoritas didalam rencana masa yang akan datang.
  • Pengembangan para manajer dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

WHO

SIAPA SAJA YANG TERMASUK DALAM SUMBER DAYA MANUSIA, DAN SIAPA SAJA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS KUALITAS SDM.

Sumber daya manusia merupakan aset negara yang cukup besar peranannya dalam menata semua lini kehidupan. Maka nasib sebuah negara tergantung pada sumber daya manusia yang mengelolanya. Seperti apapun kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara apabila dikelola oleh pribadi-pribadi yang mempunyai kemampuan (kapability) “rendah”, maka negara itu akan lamban dalam melakukan pembangunan dan pemerataan (kemajuan). Sementara kalau kita bercermin negara-negara maju seperti Jepang, Cina, Malaysia, Singapura dan negara-negara maju lainnya. Jepang misalnya adalah negara yang pernah menderita setelah dibomnya kota Heroshima dan Nagasaki sebagai kota peradaban Jepang. Akan tetapi jepang cepat bangkit dan lebih maju dari sebelumnya. Sekarang Jepang sebagai negara yang maju di bidang teknologi dan industri. Hal ini tentu karena didukung oleh sumber daya manusia Jepang yang cukup tinggi. Pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas tentunya diperoleh dari proses panjang yang bisa mengantarkannya pada gerbang ilmu pengetahuan untuk mencetak manusia cerdas, kreatif, inovatif dan berwibawa yang nantinya akan melahirkan kaum intelektual yang mempunyai kapabilitas tinggi. Sedangkan Ilmu pengetahuan dapat kita peroleh melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah penggalian dan pengembangan sumber daya manusia yang secara komprehensif dan luas yang tidak hanya terfokus kepada pendidikan formal belaka seperti SD dan MI, SLTP dan Mts, SMU dan MA dan Perguruan Tinggi.

Kalau kita cermati, pendidikan pada dasarnya diselenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya. Pendidikan juga merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia sebagai khalifah dan menjadikan manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya dijadikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat (baca: Paulo Freire)

Kalau kita melihat terjadinya ketidakadilan, kemiskinan, penindasan terhadap masyarakat di mana-mana lebih disebabkan oleh kurangnya kesadaran pemerintah terhadap dunia pendidikan terutama bagi mereka yang hidupnya dibawah garis kemiskinanan. Menyikapi situasi dan kondisi seperti ini hendaknya pemerintah mulai membuka mata, melebarkan sayapnya, banyak belajar pada negara-negara tetangga yang maju dan jangan lupakan sejarah, jadikanlah sejarah sebagai referensi.

Dulu Indonesia diminta untuk mengirim para pengajar ke Malaysia, akan tetapi sekarang Indonesia banyak di minta untuk mengirim para TKI ke Malaysia sebagai kuli bangunan, sampai kapan sejarah buruk ini akan berakhir . Hal ini terjadi karena SDM rakyat Indonesia sekarang lebih rendah dari Malaysia

Menurut hasil penelitrian Human Development Index (HDI), Indonesia menempati peringkat 112 dari 117 negara yang disurvei, tiga tingkat dibawah Vietnam. Sedangkan dalam laporan United National Development Program (UNDP), memposisikan Indonesia pada peringkat 110 dari 173 negara, jauh di bawah Malaysia (peringkat 55), Thailand (peringkat 70), Filipina (peringkat 77), Cina (peringkat 96) dan Vietnam (peringkat 109). Sungguh memprihatinkan. Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan bersaing dengan Dunia.

Kebanyakan ilmuan sepakat bahwa tidak ada jalan yang lebih efektif menciptakan SDM yang berkualitas, kecuali melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya, yaitu mengubah manusia menuju yang lebih baik entah itu dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, tentunya juga didukung oleh sarana dan prasarana yang semestinya menjadi penunjang dalam pembelajaran. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu dikarenakan ekonomi yang tidak mendukung, sementara biaya pendidikan cukup tinggi.

Orang miskin dilarang sekolah!, begitulah judul buku yang ditulis oleh Eko Prasityo. buku ini cukup membuka realitas yang dialami bangsa kita melihat rendahnya perekonomian masyarakat yang rata-rata dibawah standar, seolah-olah pendidikan hanya dimiliki oleh para kaum elit, tuan tanah dan para kaum konglomerat, sedang kaum konglo melarat alias proletar (miskin) cukup menjadi babu-babu mereka.

Dimana eksistensi undang-undang No 22 tahun 2003 tentang pendidikan nasional, Atau memang sudah tidak relevan lagi, karena pendidikan sekarang orientasinya adalah materi yaitu mencari keuntungan (Banking System Education). Dalam pendidikan, pemerintah terkesan tidak serius dalam memperbaiki mutu pendidikan di negeri ini. Hal ini tercermin dalam realisasi anggaran pendidikan yang 20 % dari pendapatan APBN. Pada tahun 2004 hanya 6,6% (Rp 15 trilyun); APBN 2005 sebesar 9,3% (Rp 21 trilyun), dan APBN 2006 setara 12% (Rp 31 trilyun). Rencananya pencapaian alokasi anggaran pendidikan 20% ditargetkan pada tahun 2009.

Target pemerintah pada tahun 2009 yaitu untuk memenuhi anggaran pendidikan yang 20 % dari pendapatan APBN tidak ada konsekuensi logis yang akan dilakukan ketika target itu tidak tercapai. Kemungkinan tercapai sangat minim, belum ada titik terang karena masyarakat sudah kenyang dengan janji-janji pemerintah yang penuh dengan kebohongan tanpa ada wujud yang riil di lapangan.

Akuntabilitas pengelolaan dana pendidikan dari pusat, daerah sampai ke level sekolah menjadi pertanyaan. Anggaran yang dikeluarkan negara untuk pendidikan terus meningkat, biaya pendidikan yang ditanggung masyarakat makin mahal, tetapi mutu pendidikan begitu-begitu saja, bahkan terus merosot. (P Bambang Wisudo) Dengan situasi seperti ini bagi para kaum konglo melarat tidak boleh berkecil hati untuk tidak mendapatkan pendidikan.

Perpustakaan Sebagai Sarana Pendidikan Masyarakat.

Perpustakan adalah tempat untuk meyimpan naskah yang berisi informasi baik informasi yang tercetak maupun terekam yang siap disajikan (dipinjamkan) kepada pemakainya. Salah satu fungsi dari perpustakaan adalah sebagai tempat pendidikan non formal/informal. Perpustakaan dibuat untuk kebutuhan masyarakat umum atas informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat yang dilayaninya. tidak memandang miskin, kaya, suku, agama, dan kelas atau strata yang ada di masyarakat.

Dengan hadirnya perpustakaan di tengah–tengah masyarakat diharapkan bisa memberi solusi dalam mengakses ilmu pengetahuan, karena pada dasarnya perpustakaan didirikan sebagai pusat pendidikan masyarakat. Maka dengan adanya perpustakaan merupakan kesempatan bagi mereka yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal dikarenakan biaya pendidikan yang cukup tinggi, di samping mahalnya harga buku-buku untuk dibeli. Perpustakaan menyediakan berbagai macam koleksi buku yang diperlukan oleh masyarakat untuk dipinjamkan dan jasa yang berikan secara cuma-cuma (tidak di pungut biaya)

Akan tetapi permasalahannya, sudahkah pemerintah baik pusat atau daerah memberi alternative dengan menggalakkan perpustakaan. Penyelenggaraan perpustakaan dari tingkat RT, RW, Desa, Kecamatan perpustakaan propensi hingga hingga perpustakaan nasional, dan bahkan di instansi dan tempat-tempat ibadah.

Perpustakaan sudah didengungkan sejak dekade 1980-an, namun perpustakaan hanya sekedar papan nama. Masyarakat belum tergugah, bahkan banyak yang bersifat apriori. Dari 70.000 desa dan 9.000 kecamatan yang ada di Indonesia tidak lebih setengah persen yang memeiliki perpustakaan standar. Demikian juga dengan kondisi perpustakaan sekolah. Dari 20.000 sekolah dasar, hanya satu persen yang mempunyai perpustakaan standar, sedangkan dari 70.000 SLTP hanya 36 persen, untuk tingkat SLTA dari 70.000 yang ada hanya 54 persen, Sedangkan dari 4.000 perguruan tinggi, ada 60 persen yang mempunyai perpustakaan standar.

Kalau kita kaji lebih dalam, perpustakaan merupakan jantung peradaban dari suatu daerah suatu bangsa. Begitu juga disekolah-sekolah. Jantung dari sekolah adalah perpustakaan dimana dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan bisa membantu dalam kegiatan belajar-menagajar.

Di era otonomi daerah saat ini masing-masing daerah memiliki kewenangan untuk memikirkan nasib dan masa depannya sendiri, sehingga memberi peluang bagi masing-masing daerah untuk bersaing menjadi daerah yang terbaik diantara yang baik. Bagi daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan didukung pula oleh sumber daya manusia yang handal diiringi dengan pemimpin yang memiliki naluri membangun maka lahirlah sebuah daerah yang maju mengingat masyarakat yang sejahtera, tetapi bagi daerah yang hanya memiliki sumber daya alam terbatas serta sumber daya manusia yang kurang memadai ditambah lagi dengan pemimpin yang tidak kreatif maka akan sengsaralah masyarakat suatu daerah.

Mengingat otonomi daerah memberikan peluang kepada daerah untuk memajukan daerahnya masing-masing maka sudah selayaknya pemerintah daerah untuk menggalakkan perpustakaan sebagai tempat belajar masyarakat. Mengingat kemajuan suatu daerah adalah tergantung pada sumber daya manusia yang mengelolanya, untuk menjadi daerah yang maju hendaknya yang lebih dahulu dimatangkan adalah SDM yang ada di daerah itu sendiri sehingga daerah tidak lagi dikelolah oleh orang lain, disamping itu juga dapat mengurangi pengangguraan yang ada di daerah. Dan sapah pepatah ” ayam mati diatas lumbung” tiadak akan terjadi pada anak bangsa.

WHERE

KEDUDUKAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PERUSAHAAN

Pentingnya SDM
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Selanjutnya, MSDM berarti mengatur, mengurus SDM berdasarkan visi perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara optimum. Karenanya, MSDM juga menjadi bagian dari Ilmu Manajemen (Management Science) yang mengacu kepada fungsi manajemen dalam pelaksanaan proses-proses perencanaan, pengorganisasian, staffing, memimpin dan mengendalikan.

Menurut A.F. Stoner manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya.

Departemen Sumber Daya Manusia Memiliki Peran, Fungsi, Tugas dan Tanggung Jawab :

1. Melakukan persiapan dan seleksi tenaga kerja / Preparation and selection

a. Persiapan
Dalam proses persiapan dilakukan perencanaan kebutuhan akan sumber daya manusia dengan menentukan berbagai pekerjaan yang mungkin timbul. Yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perkiraan / forecast akan pekerjaan yang lowong, jumlahnya, waktu, dan lain sebagainya.
Ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan persiapan, yaitu faktor internal seperti jumlah kebutuhan karyawan baru, struktur organisasi, departemen yang ada, dan lain-lain. Faktor eksternal seperti hukum ketenagakerjaan, kondisi pasa tenaga kerja, dan lain sebagainya.

b. Rekrutmen tenaga kerja / Recruitment
Rekrutmen adalah suatu proses untuk mencari calon atau kandidat pegawai, karyawan, buruh, manajer, atau tenaga kerja baru untuk memenuhi kebutuhan sdm oraganisasi atau perusahaan. Dalam tahapan ini diperluka analisis jabatan yang ada untuk membuat deskripsi pekerjaan / job description dan juga spesifikasi pekerjaan / job specification.

c. Seleksi tenaga kerja / Selection
Seleksi tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah menerima berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup / cv / curriculum vittae milik pelamar. Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara pelamar yang akan dipanggil dengan yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan. Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat terpilih untuk dilakukan ujian test tertulis, wawancara kerja / interview dan proses seleksi lainnya.

2. Pengembangan dan evaluasi karyawan / Development and evaluation

Tenaga kerja yang bekerja pada organisasi atau perusahaan harus menguasai pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Untuk itu diperlukan suatu pembekalan agar tenaga kerja yang ada dapat lebih menguasai dan ahli di bidangnya masing-masing serta meningkatkan kinerja yang ada. Dengan begitu proses pengembangan dan evaluasi karyawan menjadi sangat penting mulai dari karyawan pada tingkat rendah maupun yang tinggi.

3. Memberikan kompensasi dan proteksi pada pegawai / Compensation and protection

kompensasi adalah imbalan atas kontribusi kerja pegawai secara teratur dari organisasi atau perusahaan. Kompensasi yang tepat sangat penting dan disesuaikan dengan kondisi pasar tenaga kerja yang ada pada lingkungan eksternal. Kompensasi yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada dapat menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di kemudian hari atau pun dapat menimbulkan kerugian pada organisasi atau perusahaan. Proteksi juga perlu diberikan kepada pekerja agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan tenang sehingga kinerja dan kontribusi perkerja tersebut dapat tetap maksimal dari waktu ke waktu. Kompensasi atau imbalan yang diberikan bermacam-macam jenisnya yang telah diterangkan pada artikel lain pada situs organisasi.org ini.

Proses perencanaan SDM atau manpower planning yang dilakukan dengan baik akan memberikan sejumlah manfaat seperti berikut. Yang pertama adalah mamu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pendayagunaan SDM. Pendayagunaan SDM akan berlangsung efektif dan efisien karena Perencanaan SDM harus dimulai dengan kegiatan pengaturan kembali atau penempatan ulang (restaffing/replacement) SDM yang dimiliki.

Penempatan ulang dimaksudkan agar setiap dan semua SDM yang dimiliki bekerja pada jabatan atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Dengan kata lain setiap jabatan/pekerjaan dilaksanakan oleh SDM yang kualifaid, yang dapat memberikan kontribusi maksimal pada pencapaian tujuan organisasi/perusahaan.

Manfaat Kedua : Meningkatkan kecermatan dan penghematan pembiayaan (cost) dan tenaga dalam melaksanakan rekrutmen dan seleksi. Rekrutmen dan Seleksi untuk menindaklanjuti Perencanaan SDM harus didahului dengan melaksanakan promosi dan pemindahan jabatan, mempensiunkan dan memberhentikan pekerja sesuai alasan masing-masing.

Dengan demikian pembiayaan (cost) dapat dihemat, karena melalui ketepatan penempatan ulang tidak akan terjadi penempatan yang keliru, sehingga tidak perlu menyediakan pembiayaan untuk mengangkat atau menambah SDM dari sumber eksternal, jika masih tersedia dari sumber internal yang memenuhi kualifikasi untuk mengisi kekosongan. Di samping itu kontribusi SDM akan meningkat sebanding atau melebihi pembiayaan (cost) SDM yang dipergunakan.

Manfaat ketiga : Mendorong perilaku proaktif, dan tidak reaktif. Melalui perencanaan SDM yang baik, perusahaan akan dapat membangun serangkaian tindakan yang responsif terhadap setiap dinamika perkembangan bisnis yang ada.

Manfaat keempat : Memastikan Terpenuhinya Kebutuhan SDM yang Kompeten. Melalui perencanaan SDM, proses penempatan pegawai yang kompeten dan tepat pada posisinya akan dapat tercapai dengan lebih optimal

Manfaat kelima : Mendorong terbangunnya Sistem Informasi SDM yang Akurat. Sistem informasi SDM yang akurat merupakan salah satu elemen penting untuk mendayagunakan kinerja organisasi. Perencanaan SDM akan mampu mendorong terbangunnya sistem informasi SDM yang handal dan akurat.

Fungsi Sumber Daya Manusia

1. Perekrutan dan Penerimaan (Recruiting and Hiring). SDM membantu menerima pegawai baru ke dalam perusahaan. SDM selalu mengikuti perkembangan terakhir dalam peraturan pemerintah yang mempengaruhi praktek kepegawaian dan menasehati manajemen untuk menentukan kebijakan yang sesuai.
2. Pendidikan dan Pelatihan. Selama periode kepegawaian seseorang, SDM dapat mengatur berbagai program pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian kerja pegawai.
3. Manajemen Data. SDM menyimpan database yang berhubungan dengan pegawai dan memproses data tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
4. Penghentian dan Admistrasi Tunjangan. Selama seseorang diperkerjakan oleh perusahaan mereka menerima paket tunjangan. Setelah penghentian, SDM mengurus program pensiun perusahaan bagi mantan pegawai yang berhak.

HOW

Pada bagian ini berkaitan dengan pertanyaan “Bagaimana kualitas SDM di Indonesia bila dibandingkan dengan bangsa lain ?” dan “Bagaimana cara meningkatkan kualitas SDM di Indonesia?”

Mempersoalkan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu hal yang tidak mudah. Apalagi kita sebagai bangsa Indonesia, membicarakan kualitas sumber daya Indonesia berarti membicarakan diri kita sendiri atau kita harus berkaca diri. Kalau memang niatnya memang untuk berkaca diri, kita harus bisa melihat realita. Kalau bagus ya bersyukurlah tetapi sebaliknya kalau tidak memuaskan ya tidak perlu berkecil hati, apalagi mengumpat, ibaratnya buruk rupa cermin dibelah.

Mempersoalkan kualitas sumber daya manusia paling mudah dilakukan dengan melakukan perbandingan antar bangsa atau antar negara. Perbandingan berdasarkan hal-hal yang bersifat kualitatif tidak begitu mudah dilakukan karena hasilnya dapat bersifat subyektif. Perbandingan berdasarkan hal-hal yang kuantitatif atau dapat diangkakan lebih mudah dilakukan. Perbandingan berdasarkan hal-hal yang kuantitatif memberikan beberapa gambaran yang positif tentang negara dan bangsa Indonesia, tetapi dalam waktu yang sama banyak gambaran lainnya yang menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat memprihatinkan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Perbandingan Antar-Bangsa

Perbandingan kualitas sumber daya manusia (KSDM) dapat ditinjau dari segi tingkat kesejahteraan hidupnya yang secara langsung dapat diukur dari tingkat pendapatan per kapita. Dari segi ini, ada bangsa-bangsa yang dapat digolongkan sangat miskin dengan pendapatan per kapita tiap tahun dibawah $1000,-US. Pendapatan per kapita ini temyata mempunyai korelasi yang amat kuat dengan tolok ukur apapun yang dapat menggambarkan kesejahteraan, tingkat  kemajuan dan tingkat keberdayaan suatu bangsa atau negara. Sifat korelasinya boleh dikatakan merupakan hubungan lurus atau linear, tidak pandang tolok ukur yang diperbandingkan. Dengan pendapatan per kapita di pasang pada sumbu mendatar dan tolok ukur dipasang pada sumbu tegak , grafik hubungan antara tolok ukur dan pendapatan per kapita merupakan hampir garis lurus, dengan negara-negara miskin bergerombol di bagian kiri bawah, negara-negara kaya di bagian kanan atas dan negara-negara menengah ada di bagian tengah. Cukup menarik untuk mengamati bahwa negara-negara Amerika Utara, Eropa dan beberapa negara penghasil minyak termasuk negara-negara yang amat kaya, sedangkan sebagian besar negara-negara berkembang baik di Afrika dan di Asia termasuk Indonesia merupakan negara-negara miskin.

Pengamatan sepintas seperti diatas mau tidak mau akan menimbulkan pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu: Kenapa suatu bangsa dapat menjadi suatu bangsa yang kaya, kuat dan maju sedangkan bangsa lain tidak. Pertanyaan selanjutnya adalah faktor-faktor apakah yang dapat mempengaruhi suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang kaya, kuat dan maju.
Perbandingan Antara Negara Kaya dan Miskin

Beberapa faktor dapat diperiksa apakah merupakan penentu kejayaan suatu bangsa. Pertama jumlah penduduk, ternyata negara yang berpenduduk terbesar di dunia, bahkan masih bisa digolongkan kedalam negara berkembang. India dan Indonesia keduanya menempati urutan kedua dan keempat dalam jumlah penduduk, juga merupakan negara berkembang dan bahkan dapat dikatakan negara miskin. Jadi jelas bahwa jumlah penduduk bukan faktor penentu bagi kejayaan suatu bangsa, karena Amerika Serikat yang merupakan urutan ketiga ternyata memang menjadi negara terkaya dan terkuat didunia.
Faktor kedua yang dapat diperiksa adalah luas wilayah suatu negara. Rusia (dulu Uni Soviet) mempunyai 1/6 dari luas permukaan daratan di bumi, tetapi Rusia bukan negara kaya walaupun termasuk salah satu negara yang paling kuat di bumi. Indonesia menguasai wilayah (darat+laut) yang sama luasnya dengan benua Eropa dan sama luasnya dengan daratan kontinental Amerika Serikat, tetapi Indonesia termasuk negara miskin dan terbelakang. Sebaliknya negara-negara yang berwilayah kecil dan juga berpenduduk tidak banyak, seperti Inggris, Belanda, Jepang dan Korea merupakan negara-negara kaya atau sangat kaya. Jadi jelas bahwa baik jumlah penduduk maupun luas wilayah suatu negara bukan merupakan faktor penentu kejayaan suatu bangsa.

Faktor ketiga adalah kekayaan sumber daya alam. Dalam hal ini, Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, tetapi kekayaan sumber daya alam yang melimpah itu belum mampu mengangkat taraf kesejahteraan rakyat Indonesia, bahkan sebaliknya rakyat Indonesia termasuk yang termiskin di dunia. Sebaliknya beberapa negara yang sangat miskin sumber daya alam seperti Korea, Taiwan, Jepang dan beberapa negara kecil di Eropa kenyataannya dapat berkembang menjadi negara-negara yang sejahtera, maju dan kuat.

Kalau baik jumlah penduduk dan luas wilayah, maupun kekayaan sumber daya alam bukan merupakan faktor penentu untuk kejayaan suatu bangsa, dugaan kuat mengarah pada kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam hal ini dapat diamati perbandingan yang amat mencolok antara negara-negara kaya, maju dan kuat dengan negaranegara terbelakang, miskin dan tidak berdaya. Negara-negara kaya hanya memiliki 20% dari penduduk di bumi tetapi menguasai 80% dari pendapatan global, sebaliknya negara-negara miskin walaupun memiliki 80% dari penduduk bumi hanya menguasai 20% dari pendapatan global. Dari segi penguasaan wilayah, negaranegara kaya menguasai 40% dari permukaan bumi, sedangkan negara-negara miskin menguasai 60% sisanya. Perlu dicatat bahwa lebih dari 50% penduduk bumi hidup di negara-negara paling miskin di dunia dengan pendapatan kurang dari 1 $ US per kapita per hari. Dinegara-negara miskin, 30 anak tiap menit meninggal karena penyakit yang sebenarnya mudah disembuhkan, dan 130 juta anak hanya mendapatkan anggaran pendidikan setiap tahun yang tidak lebih dari harga satu kapal selam nuklir. Sementara itu, di negara-negara maju setiap menit dihabiskan anggaran sebesar 1,3 juta dolar hanya untuk pengembangan persenjataan untuk perang.

Keberdayaan negara-negara maju dibandingkan dengan ketidakberdayaan negaranegara miskin dapat dilihat dari segi kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara maju memiliki 90% dari ilmuwan, sedangkan negaranegara miskin hanya memiliki 10% sisanya.

Sebagian besar ilmuwan di negara-negara maju langsung berkiprah dalam kegiatan inovasi yang produktif, sedangkan ilmuwan di negara-negara miskin sebagian besar hanya terlibat dalam kegiatan administratif, manajemen dan pendidikan yang pada umumnya tidak produktif dari segi pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keperkasaan negaranegara maju dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat pula dilihat dari anggaran penelitiannya, negara-negara maju mengerahkan 98% dari total anggaran penelitian seluruh dunia, sedangkan negara-negara miskin hanya mampu menyediakan 2% saja. Apabila dilihat dari anggaran penelitian per kapita, negaranegara maju menunjukkan angka yang 300 kali lebih tinggi dari negara-negara miskin. Dari segi persen anggaran belanja yang disediakan untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, negara-negara maju mengerahkan 2,5-3,0% anggarannya, negara-negara menengah antara 1-2%, sedangkan Indonesia sebelum krisis moneter, diperkirakan tidak lebih dari 0,2% saja. Sesudah krisis, diperkirakan tidak lebih dari 0,1 saja dari anggaran yang dapat disediakan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan.
Faktor Penentu Kejayaan Suatu Bangsa

Dapatlah disimpulkan keberdayaan dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor penentu dalam kemampuan meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa. Kekayaan dalam sumber daya alam ternyata tidak menjamin suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang kaya, maju dan kuat. Besarnya jumlah penduduk bukan pula merupakan faktor penentu.

Selama ini, negara-negara berkembang, terbelakang dan miskin sangat mengandalkan bantuan dari negara-negara kaya. Bantuan berupa program alih teknologi, keberhasilannya akan sangat tergantung kepada kemampuan dalam menyerap teknologi tersebut. Disamping itu, program alih teknologi akan terbatas pada bidang teknologi madya, teknologi primitif yang sudah usang dan tidak akan mencakup bidang teknologi strategis.
Kualitas Sumber Daya Manusia Sebagai Faktor Penentu

Perkembangan sejarah menunjukkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan setiap bangsa sangat ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia. Pengalaman menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang hancur lebur selama perang dunia dapat dengan cepat bangkit lagi hanya karena memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sangat tinggi. Adalah lebih mudah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang bernilai tambah sangat tinggi dibandingkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi rendah yang bernilai tambah kecil. Selarna ini negara-negara berkembang dan miskin tetap mengandalkan hasil-hasil tradisional seperti hasil pertanian, kehutanan, bahan tambang, bahan mentah, industri padat karya atau industri primitif yang memanfaatkan tenaga kerja yang murah. Sementara itu negara-negara kaya tetap menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang nilai tambahnya sangat tinggi.

Tidak terlalu sukar untuk memperkirakan gambaran perbandingan antara negara-negara kaya dan miskin di masa depan. Negara kaya akan bertambah kaya dan negara miskin akan makin menjadi lebih miskin. Sementara itu, kecenderungan globalisasi yang akan makin deras, hasil bersihnya justru aliran kesejahteraan dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya dan bukan sebaliknya. Dan negara-negara miskin akan makin tergantung pada bantuan luar negeri dan makin terjebak pada hutang hutang luar negeri. Bahkan bidang teknologi tertentu seperti bioteknologi akan mengancam kelangsungan hidup petani miskin di negara-negara berkembang yang masih berkutat dengan teknologi pertanian yang primitif.
Pentingnya Pembinaan Kualitas Sumber Daya Manusia

Telah disinggung dimuka bahwa jumlah penduduk, luasnya penguasaan wilayah dan kekayaan sumber daya alam bukan merupakan jaminan bagi tercapainya kesejahteraan suatu bangsa, tetapi justru kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang paling menentukan. Negara atau bangsa manapun yang ingin meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, bahkan untuk sekedar mempertahankan eksistensinya, harus berpikir keras untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia pada dasarnya merupakan hasil proses regenerasi yang diwariskan secara turun temurun dan hasilnya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan (genetik) tetapi juga oleh faktor-faktor lingkungan seperti: lingkungan geografis, lingkungan budaya, lingkungan peradaban dan sebagainya. Inilah yang menimbulkan adanya perbedaan yang nyata antara kualitas sumber daya manusia dari lingkungan yang satu dan lingkungan lainnya.

Perlu diakui bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak seperti yang kita harapkan. Oleh karena itu, dalam setiap hal, perlu sekali dipikirkan pemilihan bibit unggul diantara sumber daya manusia yang ada dan selanjutnya pembinaannya menjadi sumber daya manusia yang berdaya dan berguna. Perlu diingat bahwa keunggulan suatu bibit yang mungkin diwariskan secara turun ternurun saja belum juga merupakan jaminan mutlak untuk keberhasilan pembinaannya menjadi sumber daya manusia yang berdaya dan berguna.

Keberhasilan pembinaan ini masih menuntut dimilikinya ciri-ciri kualitas tambahan yaitu kemampuan dan kemauan kerja keras, sungguh-sungguh, tekun, ulet, gigih, tidak kenal menyerah, pantang mundur, pantang putus asa dan sebagainya. Barangkali, gabungan antara keunggulan bibit secara genetis dan ciriciri kualitas tambahan yang disebutkan diatas yang merupakan jaminan bagi keberhasilan pembinaan sumber daya manusia.

WHEN

Bagian ini berkaitan dengan waktu, artinya di dalamnya terdapat proses perencanaan. Berikut ini akan dibahas mengenai PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA :

PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber daya manusia, yang kemudian disingkat SDM, merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Dalam definisi yang lain, sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.

Bicara mengenai sumber daya manusia, maka terkait juga dengan perencanaan SDM, yaitu proses analisis dan identifikasi tersedianya kebutuhan akan SDM sehingga organisasi dapat mencapai tujuannya.

Ada tiga kepentingan dalam perencanaan sumber daya manusia, yaitu:

  • Kepentingan Individu.
  • Kepentingan Organisasi.
  • Kepentingan Nasional.

Terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sumber daya manusia, yaitu:

  • Tujuan

Perencanaan SDM harus mempunyai tujuan yang berdasarkan kepentingan individu, organisasi dan kepentingan nasional. Tujuan perencanaan SDM adalah menghubungkan SDM yang ada untuk kebutuhan perusahaan pada masa yang akan datang untuk menghindari mismanajemen dan tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.

  • Perencanaan Organisasi

Perencanaan Organisasi merupakan aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk mengadakan perubahan yang positif bagi perkembangan organisasi. Peramalan SDM dipengaruhi secara drastis oleh tingkat produksi.

Tingkat produksi dari perusahaan penyedia (suplier) maupun pesaing dapat juga berpengaruh. Meramalkan SDM, perlu memperhitungkan perubahan teknologi, kondisi permintaan dan penawaran, dan perencanaan karir.

Singkatnya, perencanaan sumber daya manusia memberikan petunjuk masa depan, menentukan dimana tenaga kerja diperoleh, kapan tenaga kerja dibutuhkan, dan pelatihan dan pengembangan jenis apa yang harus dimiliki tenaga kerja.

Melalui rencana suksesi, jenjang karier tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan perorangan yang konsisten dengan kebutuhan suatu organisasi.

Adapun syarat-syarat perencanaan sumber daya manusia antara lain:

  • Harus mengetahui secara jelas masalah yang akan direncanakannya.
  • Harus mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang SDM.
  • Harus mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi persediaan SDM.
  • Harus mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang.
  • Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan.
  • Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah.

Berikut prosedur perencanaan sumber daya manusia :

  • Menetapkan secara jelas kualitas dan kuantitas SDM yang dibutuhkan.
  • Mengumpulkan data dan informasi tentang SDM.
  • Mengelompokkan data dan informasi serta menganalisisnya.
  • Menetapkan beberapa alternative.
  • Memilih yang terbaik dari alternative yang ada menjadi rencana.
  • Menginformasikan rencana kepada para karyawan untuk direalisasikan.

Jika perencanaan sumber daya manusia dilakukan dengan baik, maka akan diperoleh keuntungan :

  • Manajemen puncak memiliki pandangan yang lebih baik terhadap dimensi SDM atau terhadap keputusan-keputusan bisnisnya.
  • Biaya SDM menjadi lebih kecil, karena manajemen dapat mengantisipasi ketidakseimbangan sebelum terjadi hal-hal yang dibayangkan sebelumnya yang lebih besar biayanya.
  • Tersedianya lebih banyak waktu untuk menempatkan yang berbakat karena kebutuhan dapat diantisipasi dan diketahui sebelum jumlah tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan.
  • Adanya kesempatan yang lebih baik untuk melibatkan wanita dan golongan minoritas didalam rencana masa yang akan datang.
  • Pengembangan para manajer dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

WHY

Pada bagian ini berkaitan dengan pertanyaan “Mengapa Sumber Daya Manusia lebih penting dari pada Sumber Daya Alam ?”

SDA TIDAK LEBIH PENTING DARIPADA SDM

Ada koreksi pada paradigma yang selama ini berjalan di tengah masyarakat, yang mengatakan negara/daerah yang kaya SDA masyarakatnya pun akan sejahtera. Paradigma ini tidak tepat. Paradigma seperti ini kelihatannya masih dianut banyak daerah di Indonesia.

Jika pemikiran seperti ini tidak segera dikoreksi dikhawatirkan daerah dimaksud akan hidup dalam angan-angan. Pengalaman dan kenyataan tidak membuktikan demikian. Banyak negara/daerah yang kaya SDA tapi rakyatnya tidak sejahtera dan sebaliknya banyak negara/daerah miskin SDA tapi rakyatnya sejahtera.

SDA yang dimiliki oleh suatu negara/daerah tidak secara langsung akan dapat mensejahterakan rakyatnya. Banyak negara yang dapat dijadikan contoh seperti Indonesia, Filipina dan negara negara Amerika Selatan yang kesejahteraan rakyatnya rendah walau SDA nya melimpah. Dengan mengubah paradigma diharapkan akan muncul perubahan kebijakan dalam pendidikan yang lebih mengarah pada kebutuhan pengelolaan SDA dan pembangunan. Pengelolaan dalam merencanakan, memanfaatkan serta pengendalian SDA sesuai proses pembangunan yang berjalan dapat dilakukan jika Indonesia memiliki SDM yang berkeahlian.. Pengelolaan yang benar dan tepat tersebut dimaksudkan agar pembangunan yang berjalan adalah pembangunan yang sehat.

Pengalaman pada banyak negara di dunia seperti Indonesia umpamanya, menunjukan pemanfaatan SDA tidak menyentuh pada kesejahteraan masyarakat karena jeleknya perencanaan dan pengendalian atas SDA tersebut. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia kurang memiliki SDM yang mampu melakukan pengelolaan SDA. Terbatasnya SDM seperti ini berakibat jatuhnya SDA tersebut pada kekuatan pasar dan terjadinya penjualan SDA dalam bentuk bahan mentah. Padahal kita memaklumi  SDA merupakan barang yang bersifat comparative advantage karena tidak semua negara memiliki SDA seperti yang dimiliki Indonesia, baik jumlah maupun keberagamannya.

Namun jika dikatakan bahwa negara yang kaya SDA “kesempatannya” untuk membangun dan mensejahterakan bangsanya adalah lebih besar  jika dibandingkan dengan negara yang SDA nya terbatas itu adalah benar. Tapi belum sampai pada penciptaan kesejahteraan bangsa. Itu baru sebuah kesempatan. Oleh sebab itu ini adalah sebuah tantangan bagi negara/daerah yang kaya SDA  agar bagaimana SDA yang melimpah itu dapat dimanfaatkan sebaik baiknya bagi meningkatkan kesejahteraan bangsanya.

Realisasi tantangan itu lebih ditentukan oleh tersedianya SDM yang berkemampuan yaitu SDM yang menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan. Hanya dengan SDM yang seperti ini negara  kaya SDA dapat meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tak ada yang dapat diharapkan dari SDM yang tidak berpengetahuan dan teknologi. Peran SDM jangan dilihat dari jumlahnya saja tapi yang paling utama adalah kemampuannya dan semangatnya untuk ikut terlibat di dalam pembangunan bangsa. Nilai SDM itu terletak pada kemampuannya berpikir dan melaksanakan apa yang dipikirkannya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Selanjutnya negara yang SDA nya terbatas tidak berarti  kesejahteraan masyarakatnya rendah. Contoh Korea Selatan, Singapura, Jepang dan negara lainnya. Negara negara ini memiliki keterbatasan SDA tapi memiliki keandalan SDM. Kesejahteraan bangsanya jauh lebih baik dari negara yang memiliki SDA yang banyak. Mereka menjadi negara ekonomi kuat dunia, yang memiliki daya saing tinggi. Dengan demikian SDA itu bukan jaminan bagi terciptanya pembangunan dan kesejahteraan bangsa.

Namun adalah ideal jika suatu negara/daerah memiliki kaya SDA disamping memiliki SDM yang berilmu dan berteknologi. Negara seperti ini  tidak saja kesempatannya untuk maju adalah besar tapi realisasi kesejahteraan bangsanya pun akan tercipta. Inilah yang seharusnya dicapai oleh negara/daerah yang memiliki SDA banyak. Itu berarti tiap daerah harus memiliki kebijakan pendidikan yang benar dan tepat. Walaupun pendidikan tidak secara cepat dapat mendorong pembangunan dan walaupun pendidikan akan menyedot anggaran belanja daerah dalam jumlah besar namun tidak ada pilihan lain dimana daerah harus melakukannya demi kepentingan pembangunan dan kesejahteraan bangsa masa depan.

Indonesia memiliki harapan besar untuk menjadi negara yang ideal. Indonesia memiliki SDA yang melimpah, tinggal bagaimana mendorong agar bangsanya berilmu pengetahuan secara riil. Banyaknya lulusan pendidikan tingkat menengah dan perguruan tinggi belum menjamin tersedianya SDM yang dapat memenuhi kebutuhan pembangunan. Lulusan tersebut barulah dalam bentuk formal. Belum dalam bentuk riil yaitu lulusan yang mampu mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan bangsa.

Oleh sebab itu, untuk saat ini dan seterusnya, kebijakan pendidikan di Indonesia harus dirubah. Kebijakan pendidikan tidak harus mengarah pada penciptaan lulusan yang bersifat formal, yang hanya dilihat dari persyaratan akademik tapi juga harus diarahkan pada pengembangan sumberdaya manusia yang  berdasarkan kebutuhan bagi pembangunan bangsa. Kebutuhan pembangunan berarti pengembangan sumberdaya manusia yang mampu berinovasi dan berimajinasi bagi kebutuhan pembangunan dan peningkatan effisiensi.

Kaitannya dengan effisisensi adalah para lulusan mampu mendisain suatu pekerjaan yang hemat bahan dan berbiaya wajar. Semuanya sangat bergantung pada penggunaan ilmu dan teknologi. Effisiensi memang tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Ke depan pengembangan sumberdaya manusia Indonesia harus diarahkan pada pembentukan manusia yang berilmu pengetahuan dan berteknologi yang mendukung kebutuhan proses pembangunan yang berjalan. Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA. Dan oleh sebab itu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan oleh anak bangsa adalah yang terkait dengan pengelolaan SDA dan turunannya (pembangunan generatif). Dengan cara seperti ini Indonesia akan mendapat nilai tambah atas SDA yang dimiliki, akan dapat menciptakan kesempatan kerja yang luas dan mendorong naiknya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat banyak.

Keberhasilan suatu bangsa lebih ditentukan oleh sumberdaya manusia nya daripada sumberdaya alamnya. Bangsa yang menggantungkan hidupnya dari sumberdaya alam akan hidup statis dan berada dibawah kontrol kehidupan bangsa lain. Perekonomian menjadi tidak stabil dan negara berubah menjadi ajang pemanfaatan SDA bagi kepentingan negara lain. Dengan mengembangkan SDM, Indonesia akan mampu mengolah SDA dan mampu menjadi negara unggulan di dunia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.